KEPADATAN JENTIK NYAMUK AEDES SPP DITINJAU DARI NILAI BRETEU INDEX (BI), CONTAINER INDEX (CI), DAN HUMAN INDEX (HI) DI KELURAHAN METRO KECAMATAN METRO PUSAT KOTA METRO LAMPUNG TAHUN 2015

Suharno Zen dan Dewi Rahmawati (2015) Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes Spp Ditinjau Dari Nilai Breteu Index (bi), Container Index (ci), Dan Human Index (hi) Di Kelurahan Metro Kecamatan Metro Pusat Kota Metro Lampung Tahun 2015

Prosiding Seminar Nasional Milad Dan Wisuda Sarjana Um Metro Dengan Tema “transformasi Nilai-nilai Islam Dalam Meningkatkan Sdm Bangsa Indonesia ”. Isbn: 978-602-74135-0-4


File Pdf Download


ABSTRAK

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit  yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia saat ini. Selalu ada kasus kematian setiap tahunnya khususnya pada musim penghujan. Aedes spp biasanya berkembangbiak pada tempat-tempat penampungan air bersih atau air hujan seperti bak mandi, tangki penampungan air, vas, kaleng-kaleng atau kantung-kantung plastik bekas, talang rumah, bambu pagar, kulit-kulit buah seperti kulit buah rambutan, tempurung kelapa, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk Aedes spp ditinjau dari nilai BI, CI dan HI di Kelurahan Metro Kecamatan Metro Pusat. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode observasi atau survei dengan tehknik Single Larva. Penelitian dilakukan pada bulan Januari – Maret 2015 di RT 09, RT 10, RT 11, RT 12 Kelurahan Metro Kecamatan Metro Pusat. Bangunan yang diperiksa berjumlah 100 bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 250 kontainer yang diperiksa terdapat 33 jenis kontainer yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes spp. Jenis wadah tempat perkembangbiakan Jentik nyamuk Aedes spp pada RT 09, RT 10, RT 11, dan RT 12 Kelurahan Metro Kecamatan Metro Pusat adalah jenis kontainer seperti : Baskom, Bak Mandi, Botol Beling, Pot Bunga, Mainan Mobil-mobilan Bekas, Ban Bekas, Ember, Wadah Minuman Plastik, Tempat Minum Keramik Bekas, Tempat Wudhu Bekas. Ember merupakan jenis wadah yang paling banyak digunakan nyamuk Aedes spp berkembangbiak dengan jumlah 9 (27,27%), sedangkan wadah plastik merupakan wadah yang paling sedikit digunakan nyamuk Aedes spp untuk berkembangbiak (3,030%). Kepadatan jentik diukur dengan parameter HI=27%, CI=13,2%, BI=33%, dan Density Value sebesar 2,4 yang artinya skala 2 ini menunjukkan bahwa tingkat resiko penularan DBD di Kota Metro tergolong sedang.

 

Kata kunci : Aedes sp, DBD, breteu index, container index, human index, Density Value


REFERENSI

Anggraeni, Dini Siti. 2010. Stop Demam Berdarah Dengue. Bogor Publishing House.

Depkes RI. 2010. Buku 1: Penemuan dan Tata Laksana Penderita Demam Berdarah Dengue, Depkes RI, Jakarta.

 

______. 2010. Buku 2: Sueveilans Epidemiologis Demam Berdarah Dengue, Depkes RI, Jakarta.

 

______. 2010. Buku 3: Pemberantasan Nyamuk Penular Demam berdarah dengue, Depkes RI, Jakarta

 

Dinas Kesehatan Kota Metro. 2013.Buku Laporan Jumlah Penemuan Kasus Penyakit DBD di Kota Metro Tahun 2008-2013. Metro. Lampung

 

Gandahusada, Srisasi. 1998. Parasitologi Kedokteran. FKUI: Jakarta.

Hendri, Joni. 2010. Tempat Perkembangbiakan Nyamuk Aedes spp. Di Pasar Wisata Pangandaran. Jurnal Aspirator. (Online). Vol. 2 No. 1 Tahun 2010 : 23-31.

Marjuki. 2005. Studi Populasi dan Kapasitas Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) didaerah dengan Tingkat Endemisitas Berbeda. (Online). Semarang: Progam Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

Rahayu, Misti. 2010. Studi Kohort Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue. Jurnal Kedokteran Masyarakat. (Online). Vol. 26, No. 4.

Rosa, Emantis. 2007. Studi tempat perindukan nyamuk vektor demam berdarah dengue di dalam dan di luar rumah di Raja Basa Bandar Lampung. Jurnal sains MIPA.(Online). Vol. 13, No. 1, Hal: 57-60.

Sembel, Dantje T. 2009. Entomologi Kedokteran. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.

Supartha, I Wayan. 2008. Pengendalian Terpadu Vektor Virus Demam Berdarah              Dengue, Aedes aegypti (Linn.) dan Aedes albopictus (Skuse)(Diptera: Culicidae). Jurnal Pertanian Ilmiah. (Online). Universitas Udayana